Thursday, June 6, 2013

dampak negatif terhadap lingkungan


NAMA : APRILIENE SIDABUTAR
 NIM      : 120403086
DEPT.    : TEKNIK  INDUSTRI
1.      Apa saja yang menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan tanah dan air?
a. Pencemaran tanah
Gejala pencemaran tanah dapat diketahui dari tanah yang tidak dapat digunakan untuk keperluan fisik manusia. Tanah yang tidak dapat digunakan, misalnya tidak dapat ditanami tumbuhan, tandus dan kurang mengandung air tanah. Faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya pencemaran tanah antara lain pembuangan bahan sintetis yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme, seperti plastik, kaleng, kaca, sehingga menyebabkan oksigen tidak bisa meresap ke tanah. Faktor lain, yaitu penggunaan pestisida dan detergen yang merembes ke dalam tanah dapat berpengaruh terhadap air tanah, flora, dan fauna tanah. Pada saat ini hampir semua pemupukan tanah menggunakan pupuk buatan atau anorganik. Zat atau unsur hara yang terkandung dalam pupuk anorganik adalah nitrogen (dalam bentuk nitrat atau urea), fosfor (dalam bentuk fosfat), dan kalium. Meskipun pupuk anorganik ini sangat menolong untuk meningkatkan hasil pertanian, tetapi pemakaian dalam jangka panjang tanpa dikombinasi dengan pupuk organik mengakibatkan dampak yang kurang bagus. Dampaknya antara lain hilangnya humus dari tanah, tanah menjadi kompak (padat) dan keras, dan kurang sesuai untuk tumbuhnya tanaman pertanian. Selain itu, pupuk buatan yang diperjualbelikan umumnya mengandung unsur hara yang tidak lengkapm terutama unsur-unsur mikro yang sangat dibutuhkan tumbuhan dan juga pupuk organik mudah larut dan terbawa ke perairan, misalnya danau atau sungai yang menyebabkan terjadinya eutrofikasi. Ketika suatu zat berbahaya atau beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
b. Pencemaran air
Pencemaran air dapat diketahui dari perubahan warna, bau, serta adanya kematian dari biota air, baik sebagian atau seluruhnya. Bahan polutan yang dapat menyebabkan polusi air antara lain limbah pabrik, detergen, pestisida, minyak, dan bahan organik yang berupa sisa-sisa organisme yang mengalami pembusukan. Untuk mengetahui tingkat pencemaran air dapat dilihat melalui besarnya kandungan O2 yang terlarut. Ada 2 cara yang digunakan untuk menentukan kadar oksigen dalam air, yaitu secara kimia dengan COD (Chemical Oxygen Demand) dan BOD (Biochemical Oxygen Demand). Makin besar harga BOD makin tinggi pula tingkat pencemarannya. Polusi air yang berat dapat menyebabkan polutan meresap ke dalam air tanah yang menjadi sumber air untuk kehidupan sehari-hari seperti mencuci, mandi, memasak, dan untuk air minum. Air tanah yang sudah tercemar akan sulit sekali untuk dikembalikan menjadi air bersih. Pengenceran dan penguraian polutan pada air tanah sulit sekali karena airnya tidak mengalir dan tidak mengandung bakteri pengurai yang aerob. Penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan merupakan salah satu sumber pencemaran air. Pupuk dan pestisida yang larut di air akan menyebabkan eutrofikasi yang mengakibatkan ledakan (blooming) tumbuhan air, misalnya alga dan ganggang. Cara pencegahan dan penanggulangan pencemaran air dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Cara pemakaian pestisida sesuai aturan yang ada.
2) Sisa air buangan pabrik dinetralkan lebih dahulu sebelum dibuang ke sungai
3) Pembuangan air limbah pabrik tidak boleh melalui daerah pemukiman penduduk. Hal ini bertujuan untuk menghindari keracunan yang mungkin terjadi karena penggunaan air sungai oleh penduduk.
4) Setiap rumah hendaknya membuat septi tank yang baik.

c. Pencemaran udara
Pencemaran udara dapat bersumber dari manusia atau dapat berasal dari alam. Pencemaran oleh alam, misalnya letusan gunung berapi yang mengeluarkan debu, gas CO, SO2, dan H2S. Partikel-partikel zat padat yang mencemari udara di antaranya berupa debu, jelaga, dan partikel logam. Partikel logam yang paling banyak menyebabkan pencemaran adalah Pb yang berasal dari pembakaran bensin yang mengandung TEL (tetraethyl timbel). Adanya pencemaran udara ditunjukkan oleh adanya gangguan pada makhluk hidup yang berupa kesukaran bernapas, batuk, sakit tenggorokan, mata pedih, serta daun-daun yang menguning pada tanaman. Zat-zat lain yang umumnya mencemari lingkungan, antara lain:
1) Oksida karbon (CO dan CO2) dapat mengganggu pernapasan, tekanan darah, saraf, dan mengikat Hb sehingga sel kekurangan O2.
2) Oksida sulfur (SO2 dan SO3) dapat merusak selaput lendir hidung dan tenggorokan.
3) Oksida nitrogen (NO dan NO2) dapat menimbulkan kanker.
4) Hidrokarbon (CH4 dan C4H10), menyebabkan kerusakan saraf pusat.
5) Ozon (O3) menyebabkan bronkithis dan dapat mengoksidasi lipida.
Cara pencegahan dan penanggulangan terhadap pencemaran udara, antara lain sebagai berikut.
a) Perlu dibatasi penggunaan bahan bakar yang menghasilkan CO.
b) Menerapkan program penghijauan di kota-kota untuk mengurangi tingkat pencemaran.
c) Memilih lokasi pabrik dan industri yang jauh dari keramaian dan pada tanah yang kurang produktif.
d) Gas-gas buangan pabrik perlu dibersihkan dahulu sebelum dikeluarkan ke udara bebas. Pembersihan dapat menggunakan alat tertentu, misalnya cottrell yang berfungsi untuk menyerap debu. Konsentrasi karbon dioksida yang berasal dari sisa pembakaran, asap kendaraan, dan asap pabrik dapat menimbulkan efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca dapat mengakibatkan:
1)      Adanya pemanasan global yang mengakibatkan naiknya suhu di bumi.
2) Mencairnya es yang ada di kutub, sehingga mengakibatkan naiknya permukaan air laut.
3) Tenggelamnya daratan (pulau) sebagai akibat dari mencairnya es di kutub.


1.      Apa defenisi  AMDAL menurut UU?
Definisi
AMDAL adalah singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan disebutkan bahwa AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

Dalam kajian AMDAL, yang nantinya akan dilakukan proses adalah dampak positif dan negatif dari suatu rencana kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah suatu kegiatan/proyek layak atau tidak layak lingkungan. Dengan mempertimbangkan aspek fisik, kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat, maka kajian dampak positif dan negatif tersebut biasanya disusun. Apabila dalam suatu rencana kegiatan, dampak negatif yang timbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia, maka kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan berdasarkan hasil kajian AMDAL.

Sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 3 PP no.27 tahun 1999 tentang AMDAL, Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi :
1) pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
2) eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui;
3) proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya;
4) proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
5) proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya;
6) introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan jenis jasad renik;
7) pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati;
8) penerpan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup;
9) kegiatan yang mempunyai resiko tinggi, dan atau mempengaruhi pertahan negara.
Bentuk hasil kajian AMDAL berupa dokumen AMDAL yang terdiri dari 5 (lima) dokumen, yaitu: Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL), Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL), Dokumen Ringkasan Eksekutif.

1. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)
KA-ANDAL adalah suatu dokumen yang berisi tentang ruang lingkupserta kedalaman kajian ANDAL. Ruang lingkup kajian ANDALmeliputi penentuan dampak-dampak penting yang akan dikaji secaralebih mendalam dalam ANDAL dan batas-batas studi ANDAL.Sedangkan kedalaman studi berkaitan dengan penentuan metodologiyang akan digunakan untuk mengkaji dampak..

2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
ANDAL adalah dokumen yang berisi telaahan secara cermatterhadap dampak penting dari suatu rencana kegiatan. Dampakdampakpenting yang telah diindetifikasi di dalam dokumen KAANDAL kemudian ditelaah secara lebih cermat dengan menggunakan metodologi yang telah disepakati. Telaah ini bertujuan untuk menentukan besaran dampak. Setelah besaran dampak diketahui, selanjutnya dilakukan penentuan sifat penting dampak dengan cara membandingkan besaran dampak terhadap criteria dampak penting yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tahap kajian selanjutnya adalah evaluasi terhadap keterkaitan antara dampak yang satu dengan yang lainnya.
3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
RKL adalah dokumen yang memuat upaya-upaya untuk mencegah, mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan hidup yang bersifat negatif serta memaksimalkan dampak positif yang terjadi akibat rencana suatu kegiatan. Upaya-upaya tersebut dirumuskan berdasarkan hasil arahan dasar-dasar pengelolaan dampak yang dihasilkan dari kajian ANDAL.

4. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL):
RPL adalah dokumen yang memuat program-program pemantauan untuk melihat perubahan lingkungan yang disebabkan oleh dampak-dampak yang berasal dari rencana kegiatan. Hasil pemantauan ini digunakan untuk mengevaluasi efektifitas upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan, ketaatan pemrakarsa terhadap peraturan lingkungan hidup dan dapat digunakan untuk mengevaluasi akurasi prediksi dampak yang digunakan dalam kajian ANDAL.

5. Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif adalah dokumen yang meringkas secara singkat dan jelas hasil kajian ANDAL. Hal hal yang perlu disampaikan dalam ringkasan eksekutif biasanya adalah uraian secara singkat tentang besaran dampak dan sifat penting dampak yang dikaji di dalam ANDAL dan upaya-upaya pengelolaan dan pemantuan lingkungan hidup yang akan dilakukan untuk mengelola dampak-dampak tersebut.
B. MANFAAT AMDAL
AMDAL bermanfaat untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan agar layak secara lingkungan. Dengan AMDAL, suatu rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, dan mengembangkan dampak positif, sehingga sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (sustainable).
2.      Apa yang dimaksud dengan dampak penting ?
Dampak penting merupakan dampak utama terhadap lingkungan akibat suatu kegiatan yang  dilakukan oleh manusia. Hal ini tertuang di dalam pasal 25 UU PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA</COMP>,<COMP NAME=nomor>NOMOR 29 TAHUN 1986</COMP> TENTANG <COMP NAME=tentang>ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN</COMP> oleh <COMP NAME=dasPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.
Pasal 25
(1)        Gubernur Kepala Daerah Tingkat I membentuk komisi daerah yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap.
(2)        Anggota tetap terdiri dari unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, instansi pemerintah yang bertugas mengelola lingkungan hidup di daerah dan pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi di daerah yang bersangkutan, sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur instansi pemerintah yang secara sektoral berwenang di daerah, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah, serta anggota lain yang dipandang perlu.
(3)        Komisi daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas :
            a.         menilai penyajian informasi lingkungan;
            b.         menetapkan kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan;
            c.         menilai analisis dampak lingkungan;
            d.         menilai rencana pengelolaan lingkungan bagi kegiatan yang bersangkutan;
            e.         menilai rencana pemantauan lingkungan bagi kegiatan yang bersangkutan;
            f.          membantu penyelesaian diterbitkannya surat keputusan tentang penyajian informasi lingkungan, analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan;
            g.         melaksanakan tugas lain yang ditentukan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.
(4)        Pedoman mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja komisi daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup.





Sama halnya seperti yang telah  dijelaaskan didalam pasal 2 yaitu bahwa terdapat dampak terhadap lingkungan atas segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia.              
Pasal 2

(1)        Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup wajib dibuatkan penyajian informasi lingkungan apabila kegiatan itu merupakan :

a.         pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
b.         eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui;
c.         proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, kerusakan dan kemerosotan pemanfaatan sumber daya alam;
d.         proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan sosial dan budaya;
e.         proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan atau perlindungan cagar budaya,
f.         introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik;
g.         pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati;
h.         penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan.

(2)        Jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah nondepartemen yang membidangai kegiatan yang bersangkutan.







4.      Bagaimana kebutuhan air kelapa sawit ?
Tanaman kelapa sawit membutuhkan banyak air untuk mencapai produksi yang maksimal. Terkadang kebutuhan air ini menjadi faktor pembatas pada tanaman kelapa sawit sekaligus menjadi masalah dalam teknis budidayanya.
            Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah.
            Kelapa sawit membutuhkan air dalam jumiah banyak untuk mencukupi kebutuhan pertumbuhan dan produksinya. Sehingga tanaman ini umumnya dikembangkan pada daerah yang memiliki curah hujan tinggi yaitu lebih dari 2 000 mm/tahun atau paling sedikit 150 mm/ atau berkisar 1.700 - 3,000 mm/tahun atau sebesar 5 - 6 mm/hari tergantung pada umur tanaman dan cuaca ,serta tanpa periode kering yang nyata atau bulan kering kurang dari satu bulan per tahun.
            Tanaman kelapa sawit memiliki perakaran yang relatif pendek sehingga perlu banyak air untuk pertumbuhan dan produksinya, kekeringan memiliki dampak yang kurang baik pada tanaman kelaa sawit.
            Kekeringan menyebabkan tanaman kekurangan air yang mengakibatkan penyerapan hara terhambat, fotosintesis dan metabolisme terganggu, serta perkembangan jaringan tanaman terhambat sehingga dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan serta menurunkan produktivitas kelapa sawit. Tingkat kerusakan tanaman kelapa sawit yang terjadi akibat kekeringan terutama bergantung pada kondisi pertanaman kelapa sawit, tingkat dan lamanya kekeringan, serta kondisi tanah.
            Oleh sebab itu untuk menanggulangi masalah kebutuhan air pada tanaman kelapa sawit ini perlu disesuaikan dengan kondisi tempat yang memiliki curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksinya.
- Curah hujan.                                                                                         
             Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2000 mm dan distribusi merata sepanjang tahun tanpa bulan kering yang berkepanjangan. Hujan yang tidak turun selam 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak sampai turun hujan. Oleh karena itu musim kemarau yang panjang akan sangat menurunkan produksi di samping pertumbuhan tanaman yang amat merana.
            Sebaran curah hujan merupakan faktor yang penting untuk perkembangan bunga. Pada umumnya sewaktu musim hujan terbentuk lebih banyak tandan bunga betina, sedang pada musim kemarau terbentuk lebih banyak bunga jantan dikarenakan mulai awal musim kemarau pemisahan bunga cenderung ke arah bunga jantan.
            Banyak pendapat menambahkan bahwa pembagian hujan yang merata betul dalam satu tahunnya berakibat hasil buah kurang, karena pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada pertumbuhan generatif, sehingga bunga atau buah yang terbentuk lebih sedikit, sehingga produksinya akan semakin menurun.
            Indonesia memiliki 70 juta hektar lahan perkebunan kelapa sawit yang tersebar sebagian besar di Pulau Sumatera dan di Pulau Kalimantan . Bila hal ini terus dibiarkan , maka pada beberapa puluh tahun yang akan datang Indonesia akan sangat kekurangan air bersih karena air tanah akan habis terhisap oleh akar sawit selain  itu curah hujan yang terkadang tidak memenuhi kebutuhan air kelapa sawit tersebut ..
Krisis air bersih di Seluma ternyata tak hanya dialami warga di ibukota Kabupaten Seluma, Tais, saja. Melainkan puluhan ribu penduduk di puluhan desa di Seluma juga kekeringan. Usut punya usut, kondisi kekeringan ini diduga akibat aktivitas pembukaan hutan yang dilakukan oleh sejumlah investor perkebunan kelapa sawit yang telah mendapat izin dari pemerintah. Anggota DPRD Seluma, Martoni SHI menuturkan, kenyataan kekurangan air yang mulai terjadi ketika kemarau baru berlangsung 1 bulan baru terjadi akhir-akhir ini. Kondisi tersebut bersamaan dengan sejak beberapa tahun terakhir sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit melakukan pembebasan dan penggusuran lahan hutan. Fakta pendukung lainnya, aktifitas pembukaan ribuan hektar lahan tersebut terdapat di hulu-hulu sungai. “Sekarang ini ledeng PDAM yang sampai ke rumah-rumah warga sudah kering. Karena sumber airnya kering. Sumber airnya kering karena sudah puluhan ribu hektar lahan dibuka untuk kebun sawit, semuanya di wilayah hulu sungai,” kata Martoni. Dipaparkan Martoni, aktivitas pembukaan lahan besar-besaran itu seperti di wilayah hulu Sungai Alas di Ulu Alas, Kecamatan Semidang Alas (SA); di hulu Sungai Talo, Kecamatan Ulu Talo; di hulu Sungai Seluma, Seluma Timur dan Seluma Utara. ”Biang masalah krisis air, mungkin sekali karena masalah itu (perkebunan sawit, red),” katanya. Menurut Martoni, salah satu solusi yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menghentikan pemberian izin kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit. Bila perlu, dilakukan pengawasan ketat terhadap perusahaan yang sudah mendapat izin dan melakukan aktifitasnya, jika aktifitasnya menyebabkan krisis air bersih maka cabut izinnya. ”Moratorium dululah pemberian izin perkebunan sawit bagi investor. Kalau mau beri izin perkebunan, bisa kebun karet, kebun kakao. Karena diketahui pohon sawit itu menghabiskan air 8 sampai 10 liter per batang per hari, bayangkan kalau ada puluhan ribu hektar kebun sawit,” katanya.

No comments:

Post a Comment